Header Ads

Breaking News
recent

AI DI INDONESIA

 AI di Indonesia Teknologi AI di Indonesia jika dilihat dengan jeli tidak berada jauh dari genggaman tangan dan memiliki pertumbuhan yang cukup menjanjikan, meski belum mencapai tingkatan seperti di AS ataupun Cina. Hal ini diakui oleh CEO Kata.ai Irzan Raditya.Ia mengungkapkan bahwa perkembangan dan adopsi teknologi AI di Indonesia belum sepesat yang terjadi di kedua negara tersebut, utamanya Cina. “Cina itu masif sekali pertumbuhannya, apalagi kalau kita lihat gerak-geriknya Alibaba, Tencent, Baidu,” jelas Irzan, Rabu (5/11). Sebagai catatan, Kata.ai merupakan start-up teknologi AI yang fokus di bidang chatbot dan natural language processing.Ia memberikan contoh, pengaplikasian AI di Cina sudah berada pada tahap di mana teknologi tersebut sudah terintegrasi di masyarakat. Ketika ingin berbelanja di gerai restoran cepat saji, ia melanjutkan, masyarakat Cina sudah tidak perlu mengeluarkan ponsel pintar untuk melakukan transaksi karena restoran tersebut sudah mengetahui identitas dari calon pembeli serta saldo yang dimiliki mereka hanya dengan menggunakan pemindaian kamera. “Kalau kita sekarang mungkin lagi heboh dengan QR Code ya dengan e-payment ... di Cina itu sudah 8 tahun lalu,” sebut Irzan. “Pemerintah Cina sangat mendorong, mem-push, pertumbuhan AI.”Di Indonesia, AI memang belum memiliki kompleksitas seperti di Cina. Salah satu penerapan dari teknologi ini, namun demikian, sudah dirasakan dalam bentuk-bentuk yang lebih sederhana, salah satunya melalui teknologi chatbot yang mungkin sering dijumpai di aplikasi-aplikasi pesan instan seperti Line, Telegram ataupun Whatsapp. Chatbot adalah program komputer yang didesain untuk menstimulasi percakapan dengan pengguna manusia dalam sebuah platform berbentuk teks ataupun audio. Sales Director Line Indonesia Anchali Kardia mengatakan bahwa perkembangan AI di Indonesia sesungguhnya cukup menjanjikan. Penggunaan chatbot dalam Line di Indonesia sendiri, lanjutnya, cukup populer di kalangan milenial karena karakteristik mereka yang lebih menyukai percakapan dalam bentuk teks. “Kita pertambahannya year-on-year jumlah bot di Indonesia itu 25 persen, untuk di Line-nya sendiri, di Line ecosystem,” sebut Kardia. Apa yang dikatakan oleh Kardia terkait perkembangan AI sejalan dengan hasil survei mengenai prospek AI di Asia Tenggara oleh SAS dan IDC Asia/Pacific pada 2018 ini. Survei tahunan bertajuk “IDC Asia/Pacific Enterprise Cognitive/AI Survey” yang dirilis Juli 2018 tersebut menemukan bahwa adopsi AI di Asia Tenggara memang tengah menanjak dengan Indonesia memimpin tren positif. Pada 2018, survei ini melibatkan total 502 eksekutif dan kepala lini bisnis IT di Asia Pasifik (kecuali Jepang), termasuk 146 responden dari Asia Tenggara (Singapura, Malaysia, Indonesia, Thailand).Tingkat adopsi AI di Asia Tenggara pada 2018 ini mencapai tingkat 14 persen, meningkat dari 8 persen di tahun sebelumnya, menandakan bahwa perusahaan mulai beradaptasi dengan AI dan menanamkan sejumlah bentuk teknologi tersebut ke dalam operasional mereka. Kemampuan AI untuk memberikan perusahaan-perusahaan tersebut pemahaman yang lebih menyeluruh dan lebih baik menjadi alasan utama lebih dari setengah responden (52 persen) untuk mengadopsi teknologi tersebut. Sebanyak 24,6 persen organisasi di Indonesia telah mengadopsi AI. Thailand, sementara itu, berada di posisi kedua (17,1 persen), disusul oleh Singapura (9,9 persen) dan Malaysia (8,1 persen). Menurut Irzan, setidaknya ada lima industri di Indonesia yang sudah mengadopsi AI, yakni perbankan, telekomunikasi, healthcare, e-commerce, dan fast moving consumer goods (FMCG). Di bidang telekomunikasi misalnya, adopsi teknologi AI diterapkan pada layanan customer service dan lainnya. “Kami memperkirakan investasi di AI akan terus meningkat, karena semakin banyak organisasi mulai memahami manfaat dari menanamkan AI ke dalam bisnis mereka dan bagaimana data serta analisis dapat membantu mengungkap wawasan baru,” sebut Global Research Director, Big Data and Analytics and Cognitive/AI, IDC Asia/Pacific, Chwee Kan Chua dalam keterangan resminya. Survei ini juga mempertegas pernyataan Irvan mengenai bagaimana pertumbuhan teknologi AI di Cina didukung oleh kepercayaan perusahaan-perusahaan di negeri tirai bambu itu bahwa AI adalah masa depan. Survei ini menyebutkan bahwa lebih dari 80 persen perusahaan di Cina dan Korea Selatan percaya bahwa AI akan menjadi bagian krusial dari sukses dan daya saing perusahaan di masa depan.



Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.